Novemberkita

    • Fashion
    • _Trendy
    • _Latest
    • Puisi
    • Curcolan
    • Pelajaran
    • Jalanan


    Cerita ini ditulis oleh seseorang yang mengalami sedang depresi rasa.



    Bolehkah aku iri?
    Mungkin boleh.
    Siapa yang akan melarangku?

    Ketika itu aku duduk ditaman
    Pemandangan yang cukup indah
    Tampak dikejauhan laki dan perempuan
    Duduk berdua, terlihat akrab
    Berbincang seru dan saling tertawa
    Mungkinkah aku iri?

    Ketika sedang duduk bersamamu
    Aku mencoba menghibur layaknya kebanyakan lelaki
    Kukira kau tersenyum karena leluconku
    Tetapi tidak.
    Senyummu bukan untukku
    Untuk dia
    Yang sedari tadi tak berhenti mengirimmu pesan
    Apakah aku terlihat iri?

    Kulihat pesan di handphonemu
    Kukira pesanku-lah yang bergambar “Love”
    Ternyata bukan
    Ada orang lain yang kau beri itu
    pantaskah aku iri?

    Ketika kulihat statusmu dibeberapa media social
    Kau jarang sekali menyenge-tag namaku
    Hanya sekali dua kali saja
    Itupun entah kapan taun
    Kau selalu mengetag nama orang lain
    Ya, siapa lagi kalau bukan dia
    Akankah aku iri?

    Ketika kulihat mereka senang, bahagia
    Menikmati indahnya sunset dipantai
    Aku pun menikmatinya.
    Tapi diujung sana
    Ada bahunya yang menopang kepalamu
    Kulihat kau tersenyum bahagia didekatnya
    Bukan didekatku
    Bolehkah aku iri?

    Aku tau...
    Aku hanya sahabat
    Yang datang saat dimintai pertolongan.
    Setiap kau butuh, yang kau hubungi aku
    Hanya sesekali kau hubungi dia.
    Sekali lagi aku sadar,
    Kalau aku hanyalah sahabatmu.
    Ketika kau senang, kau lupa denganku
    Kau lupa kalau kau punya sahabat,
    Yang sedang menunggu kabarmu,
    Menunggu balasan pesan darimu,
    Yang kau lupakan ketika kau dengan kekasihmu.
    Bolehkah aku iri?

    Apakah aku harus berterus terang?
    Perasaanku bergejolak
    Mungkin kau pun tau itu
    Dan kau hanya menganggap itu sebagai
    Rasa “Persahabatan”

    Dan diriku
    Hanya bisa menuliskan perasaan ini
    Lewat sebuah tulisan
    Yang entah kaubaca atau tidak.
    Kuterima semua kenyataan
    Bukan berarti ku mengalah,
    Tetapi aku menunggu waktu yang tepat
    Agar aku dapat menulis ulang
    kisah yang pernah kau lakukan dengan dia.

    Lanjut Membaca



    Ada sebuah kisah pada zaman Rasulallah SAW. tentang harta yang diperebutkan antara bapak dan seorang anak. Dan anak tersebut mengadu kepada Rasulallah SAW.,
    Lanjut Membaca


    Aku merasa ada sesuatu yang tidak adil
    Ketika aku duduk bersama, mereka meledekku
    Mereka menyebutku dengan nama yang bukan namaku
    Nada mereka merendahkanku
    Dimanapun berada, mereka tidak pernah menghargai
    Lanjut Membaca


    “Pernah berpikir, kenapa awan hadir lebih dulu setiap kali hujan akan turun?” tanyanya.
    “Tidak. Kenapa?” aku balik bertanya. “Bukankah artinya sudah jelas, awan yang membawa kumpulan titik air yang setelah itu akan berubah menjadi hujan,”jawabku sebatas yang aku tahu dari buku pelajaran.
    Lanjut Membaca

    About me

    Photo Profile
    Endy Fajar Rahmatulloh

    Akrab dipanggil Endy, penikmat musik, dan sedang belajar mengembangkan seni musik.

    Follow Us

    • instagram
    • facebook
    • twitter
    • youtube

    Labels

    Curcolan Pelajaran Puisi

    recent posts

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Blog Archive

    • April 2019 (4)
    facebook Twitter instagram google plus

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top